> -->

Masa Lalu: Sebuah Cerita Pendek Karya Anak SMA Muhammadiyah 9 Surabaya

Masa Lalu: Sebuah Cerita Pendek Karya Anak SMA Muhammadiyah 9 Surabaya
Konten [Tampil]

Judul Cerpen: Masa Lalu, oleh Sinta Ferdiana kelas XI MIPA SMA MUSE

“Uhuk-uhuk.”


Asap metromini yang keruh akan campuran gas karbondioksida ini berlomba-lomba masuk kedalam dua lubang hidungku. Ah, aku benci ini. Tapi gimanapun juga, mau tidak mau aku harus mau. Memang tidak biasanya aku menaiki angkutan umum. Aku selalu menunggu jemputan ojek pribadiku yang selalu setia mengantarkanku kemana-mana termasuk ke kampus. Tapi, kini beliau sedang sakit. Jadi, terpaksa aku harus menerima keadaan ini dengan menaiki metromini yang ramai dan panas. Memang sih, tidak jauh beda dengan motor tua yang selalu kunaiki bersama ojek pribadiku. Tapi, seenggaknya kan lebih aman dan cepat sampai, tempat duduknya juga tidak berdempetan, huh.

Hasyuuu.

Suara bersin yang mengganggu orang-orang yang duduk disekitarku, pandangan tertuju padaku. Memalukan, ini sungguh memalukan.

“Nih, tutup pakai masker”. Seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit putih dengan sweater biru muda nya memberiku sebuah masker yang katanya untuk menutup area hidungku. Siapa dia? Berani sekali mengajak bicara sosok Abilla Kayra yang anti sekali dengan yang namanya cowok? Perlu dipertanyakan.

Tanpa basa-basi menjawab dengan ucapan terimakasih atau semacamnya lah, aku mengambil masker itu dan langsung kukenakan. Tanpa sadar, aku belum memencet bel tanda berhenti padahal sudah sampai didepan kampus.

“Eh pak, pak.. berhenti!!!”

Sopir metromini tersebut mengerem secara mendadak. Otomatis tubuh para penumpang melesat kedepan dan berusaha untuk ditahan agar tidak jatuh. Aku bergegas turun dan membayar. Sungguh, saat itu aku bisa dibilang menyusahkan banyak orang, ribet.

Oh ya, kenalin. Namaku Abilla Kayra, panggil saja Abil. Seorang mahasiswa dari jurusan arsitektur. Kalian mau tahu mengapa aku bisa masuk jurusan itu? Ya, hidupku terlalu banyak berimajinasi, berkhayal, dan semacam itu. Harusnya aku masuk di jurusan seni kan? Tidak perlu ditanya, aku juga bingung. Sudah? Itu saja ya perkenalannya, nanti juga kalian tahu tentang aku, jangan kepo.

---

Aku cepat-cepat lari menuju kelas, dan syukurlah kelas belum dimulai. Sebuah keberuntungan setelah hal-hal menyusahkan tadi, sungguh.

Di kelas aku hanya memiliki satu teman, Tiara namanya. Ia bisa dibilang manusia yang paling mengerti sosok Abil yang sulit mendapatkan teman ini, selalu menyendiri dan sudah terlalu asik dengan dunia khayalannya. Apalagi mengenai persoalan cinta, cinta itu ribet. Hanya Tiara memang yang mengerti, serius.

“Kenapa sih ngos-ngosan gitu, sini deh” ajak Tiara.

“Gue tadi naik metromini”.

“Eh tumben nih neng Abil yang juteknya minta ampun ini betah naik metromini di antara kerumunan orang” ledek Tiara.

“Apaan sih”.

“Eh, tuh lihat dosennya sudah dateng”.

Materi berlangsung, membosankan. Aku tidak memperhatikannya sedikitpun, aku ingin pulang. Andai ada pintu ajaib seperti doraemon, aku sudah cabut dari tadi.

---

“Sendirian?”

Saat aku sedang menunggu metromini yang lewat, tiba-tiba suara yang kukenal ini mengahmpiriku. Perlahan kuputar kepalaku mencari asal suara. Oh, ia dibelakangku. Tak disangka, ia adalah makhluk yang tadi pagi memberiku masker. Kok bisa sih?

Aku mengacuhkan pertanyaannya. Lagi-lagi ia melontarkan kata.

“Bentar lagi hujan, nunggu apa?”

“Bukan urusan lo!” aku memberanikan diri untuk berbicara, walau aslinya sih males banget berurusan dengan laki-laki itu.

“Aku dijemput bentar lagi, mau bareng gak? Daripada kamu disini sendirian, mau hujan lagi”.

Apaan sih, gue itu gak butuh bantuan lo! Gue bisa sendiri

Ketusku dalam hati. Bisa-bisanya laki-laki itu sok akrab padahal kami belum saling kenal. Yang ada aku harus semakin hati-hati.

Nanti kalau gue bareng sama dia terus gue diculik gimana?

“Udah tenang, kamu aman denganku. Dari pada disini sendirian kalau ada yang macem-macem gimana?” tawarnya lagi.

Kok bisa sih, nih orang baca suara batin gue

“Gak makasih, gue bisa pulang sendiri”.

“Yakin?”

“Yakin”.

“Oke, kamu hati-hati”.

Bodoamat sih ya.

---

Tapi setelah dipikir-pikir memang menyeramkan juga tempat itu bila tersisa aku sendiri. Mahasiswa layaknya bocah. Bertubuh kecil mungil dan memiliki tinggi kurang lebih 150 cm. Sangat tidak lucu kalau diculik dan dijadikan pengemis seperti di televisi pada umumnya. Aku mengejarnya, lalu menyamai langkahnya dan memulai bicara.

“Eemm aku aaku..” ih kok gugup sih.

“Apa? Katanya berani?”

“Berani kok, cuman keburu pulang hehe” kataku sambil nyengir tanpa rasa bersalah.

“Keburu pulang karena takut di sana sendirian?” ledeknya sambil ketawa kecil.

“Enggak...” ih ngeselin banget sih nih orang.

“Udah ngaku aja kali”.

“Iya deh ngaku hmmm”.

“Hahaha.. dasar bocah gitu aja gengsi”.

Sungguh. Bila saat itu tidak hujan, dan bila saat itu ada metromini yang berlalu-lalang, aku tidak akan ngikutin orang ini, huft ngeselin.

Mobil berwarna putih dengan suara klaksonnya datang menghampiri kami berdua. Sang sopir membuka kaca, dan mempersilahkan laki-laki itu untuk segera menaiki mobil.

“Yuk naik”. Kami sudah ada di dalam mobil. Hujan turun sangat deras, untung saja orang nyebelin ini menawarkanku tumpangan. Kalau tidak, yaaahhh kalian pasti tau nasibku bagaimana.

“Rumahmu di mana?” seketika laki-laki itu membuka obrolan yang sedari tadi sunyi diiringi alunan angin dan hujan yang terdengar dari dalam mobil.

“Jalan Delima, No. 76”.

---

“Hah? Kita tetanggaan?”

“Eh yang bener aja lo”.

“Beneran rumahku di Jalan Delima No. 69”

“Ih bodo amat.”

Tetangga? Sejak kapan gue punya tetangga kayak dia? Ah bodo ngapain gue jadi mikir berat.

“Udah berhenti di sini aja” ujarku sambil menunjukkan arah yang dituju.

“Udah?”

“Apanya”

“Gini aja?”

“Maksudnya?”

“Hati-hati ini ya bawa payungnya, di luar hujan”. Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapannya. Lalu, berjalan menuju rumah.

---

“Maaa.. mamaa...” teriakkan Abil terdengar sampai dalam rumah. Ia bersemangat sekali. Semangat dalam hidupnya hanyalah ketika melihat spesialnya seorang mama, tiada duanya. Seringkali ia memanggil dan mengajak bicara ibunya itu. Namun, ibunya tidak akan pernah bisa normal untuk membalas tiap rangkaian kata yang dilontarkan Abil. Abil tahu itu, namun ia tetap akan selalu terlihat bahagia di depan perempuan yang sudah membesarkannya selama kurang lebih 17 tahun.

Mamanya mengidap penyakit kejiwaan sejak Abil kelas 1 SMA. Penyebab di balik ini semua adalah tragedi tabrak lari saat sang mama akan pergi untuk membeli makanan. Ayahnya pergi meninggalkan Abil seorang diri untuk merawat mamanya. Abil menangis dikala pertama mengetahui bahwa mamanya mengidap penyakit kejiwaan. Ia seperti seorang gadis remaja yang tidak memiliki masa depan cerah seperti teman-teman lainnya yang didukung dan diperhatikan oleh masing-masing orang tuanya. Ia terpuruk. Sejak saat itu, ia berpikir bahwa kehidupan yang paling penting adalah mamanya, ia tidak peduli masa depannya. Inilah penyebab Abil sulit berkomunikasi dengan banyak orang, ia membiarkan dirinya seperti orang aneh.

Ia melihat mamanya sedang tidur. Tidak berani mengganggu, ia langsung ke dapur untuk menghampiri bi Asih, orang yang sangat berjasa membantu keluarga kecil Abil.

“Bi mama tidur dari tadi ya?”

“Eh bibi jadi kaget, iya neng”.

“Hehe, mama udah makan belum bi?”

“Udah tadi neng”.

“Tadi kambuh lagi gak bi?”

“Nggak kok”.

Fyuh. Agak puas denger mama gak kambuh kejiwaannya, syukurlah.

Ia melentangkan tubuhnya pada kasur. Teringat kejadian tadi sore. Ia jadi berpikir dua kali mengapa laki-laki tadi bisa baik sekali padanya. Jadi PR deh buat mikir.

“Sebenarnya dia siapa sih? Memberikan masker, meminjamkan payung? Ada maksud tertentu? Bahkan kami belum sempat berkenalan, heran”.

Sebuah PR untuk Abil. Ia paling tidak suka bila ada seseorang yang diam-diam ingin menjelajahi kehidupannya, apalagi seperti laki-laki misterius itu. Ia tidak ingin ada satupun orang yang terjerumus mengikuti alur kehidupannya yang jelas-jelas tidak terjamin menurutnya, termasuk Tiara sahabatnya sendiri.

“Tidak, ini semua tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh membiarkannya menjelajahi hidupku. Ya benar, aku harus lebih tegas” gumam Abil dalam hati.

---

Keesokan harinya Abil berangkat kuliah dengan ojek pribadinya, Bang Jono. Ia sudah akrab dengan Bang Jono sejak kelas 1 SMA saat ayahnya pergi meninggalkannya dan ibunya.

“Udah siap neng?”

“Udah, yuk berangkat”.

Suatu kebiasaan. Kebiasaan yang mungkin buruk menurut pandangan orang lain. Ia tidak seberuntung anak remaja lainnya. Bila aku jadi Abil, mungkin aku akan benci pada Tuhan karena telah mengubah takdir hidupnya 180 derajat berbalik dengan kehidupan wajar pada umumnya. Abil hanya punya mamanya sebagai tujuan hidupnya, tak ada lagi.

“Makasih ya pak”. Bang jono menurunkan Abil seperti biasanya, di warung nasi dekat kampus.

“Bu, saya nasi uduk satu ya kayak biasanya”.

“Siap nona cantik, duduk dulu ya”.

Dilihat dari percakapannya, memang abil sudah sangat akrab dengan penjual nasi uduk tersebut. Yang ia kenali di kampus hanyalah penjual nasi uduk, Tiara, dan para dosen yang mengajar di kelasnya. Selebihnya? Jangan tanyakan lagi. Tahu sendiri kan? Hehehe.

Saat Abil berjalan menuju kelasnya, ia menabrak tubuh laki-laki yang menurutnya sudah tak asing lagi. Ya, laki-laki yang kemarin. Yang membuatnya berpikir dari sabang sampai merauke. “Menyebalkan” gumamnya.

“Kalau jalan itu lihat-lihat dong” ucapnya memulai pembicaraan.

“Apaan sih”.

“Jangan jutek terus, nanti nyesel”.

“Ih”.

“Abilla kan?”

Kok bisa sih tahu namaku?

“Sok tahu” sahutku.

“Kalau iya?”

“Kalau enggak?”

“Kalau iya?”

“Ih terserah deh”.

“Kalau iya, besok Minggu kamu ikut aku”.

“Gak”.

“Kesepakatan”.

“Tanpa persetujuanku?”

“Kamu harus setuju”.

“Memaksa?”

“Bukan paksaan”.

“Lalu?”

“Pelanggaran yang harus dipatuhi jika kamu salah”.

“Huh”.

“Jangan menawar”.

“Iya iya”.

Menyebalkan.

Mau tidak mau, sosok Abil harus mengikuti permintaannya. Laki-laki itu semakin lama semakin ingin menjelajahi hidupnya. Rasa ingin tahu semakin lama semakin tumbuh dalam jiwa laki-laki itu. Dan sampai saat ini, Abil tidak tahu namanya. Lucu kan?

Di dalam kelas, bayang-bayang Abil penuh tentang dia. Dia yang perlahan memasuki hidupnya. Mengetahui namanya tanpa disangka-sangka. Bertemu tanpa direncanakan. Heran, kalian jangan bingung deh biar Abil saja.

Abil berjalan menuju kelasnya sambil berpikir 360 derajat. “Maunya apa coba? Ngeselin banget. Siapa coba berani-beraninya kasih tahu nama gue?” cerocos Abil di sepanjang koridor menuju kelasnya. “Tiara?” tiba-tiba muncul satu nama dalam benaknya, sahabatnya sendiri. “Tapi mana mungkin sih Tiara?”

Sampai di kelas Tiara menyapa Abil dengan sapaa riangnya “Aabiiiilll”. “Hm tumben banget lo kangen sama gue?” tanyanya balik sambil cekikikan.

“Hah? Ogah banget dih”.

“Ya udah sih ngaku aja, dasar”.

“Eh ngomong-ngomong tadi ada yang tanyain nama elo Bil”.

“HAH SIAPA!? EH LO JANGAN NYEBELIN DEH RA GUE TUH GAK SUKA DIKENAL BANYAK ORANG!!!” teriak Abil sambil mengacak-acak rambut Tiara membuat seluruh maha siswa di kelas itu menoleh pada mereka berdua. “Eh bisa tenang gak lo” sahut salah satu maha siswa lainnya. “Iya maaf deh” jawab Abil sambil nyengir. Walaupun dosennya belum datang, namun kegaduhan mereka berdua memang mengganggu publik, seperti Tom&Jerry.

“Tuh kan elo sih Bil”.

“Siapa yang tanya nama gue nyebelin!!!” bisik Abil sambil mencubit perut Tiara.

“Aduh, sakit tau Bil”.

“Bodo amat, yang penting lo kasih tahu dulu ke gue siapa orang itu!!!”

“Hm Raka namanya, dari jurusan kedokteran”.

“Raka siapa sih?”

“Yah lo gak bakal tahu deh, lo kan asing banget sama orang di kampus ini kayak alien aja” ledek Tiara.

Raka? Raka siapa lagi sih. Mendingan gue mati aja deh dari pada dikenal banyak manusia, nyebelin.

Kalian jangan bingung. Seperti itulah sosok Abilla Kayra yang akrab dipanggil Abil itu. Cuek dengan siapapun, dan hanya mengenal satu teman dikampusnya. Bahkan, untuk bercintaan pun menurutnya adalah hal yang sangat membuang waktu. Ia menemukan kebahagiaan hanya dirumah, sang mama. Bidadari yang mungkin menurut Abil tidak pernah sedikitpun menyakiti hatinya.

---

Saat ingin pulang, lagi-lagi Abil bertemu dengan laki-laki tadi pagi yang menurutnya sangat menyebalkan. Kalian bisa banyangin kan gimana wajah jutek si Abil?

“Hm lo lagi lo lagi, bosen gue”.

Laki-laki itu menatapnya dengan ledekan. Lalu, ia mulai membuka pembicaraan.

“Aku tahu nama kamu dari Tiara, kamu kalah. Besok ikut aku ya”.

Oh jadi kelakuan Tiara!!! Huh ngeselin banget.

“Iya iya jam berapa? Di mana? Gue harus tunggu di mana? Mau apa? Awas lo macem-macem”.

“Aku jemput, masa aku yang ngajak ngebiarin kamu berangkat sendiri sih”.

“Terserah, udah ya gue cabut dulu”. Laki-laki itu hanya geleng-geleng melihat tingkah laku Abil. Ngeselin banget kan si Abil? Masa ngobrol belum dapet 1 menit udah ditinggal duluan? Udah ya Abil emang gitu orangnya hehehe.

Sampai di rumah, seperti biasa ia memanggil mamanya seperti anak kecil. Bila didepan sang mama, Abil ingin menjadi putri kecil yang selalu bahagia mendapat kasih sayang. Ya, walaupun mamanya tidak bisa komunikasi dengannya secara normal, tapi Abil sangat bersyukur Tuhan masih memberikan ia hidup bersama dengan mamanya. Ia tidak pernah menganggap Tuhan tidak adil. Karena menurutnya rencana Tuhan akan selalu terbaik.

Keeokan harinya, terdengar suara klakson mobil dari luar. Abil keluar memastikan siapa yang datang. Ternyata, yang datang adalah laki-laki yang kemarin mengajaknya keluar.

“Eh elo, masuk”. Abil mempersilahkan laki-laki itu masuk ke rumahnya untuk menunggunya ganti pakaian. Laki-laki itu duduk di sofa, tepat di sebelah mama Abil. “Tante” perlahan, laki-laki itu berbisik memanggil dan memegang tangan mama Abil. “Te ini Raka. Tante ingat nggak? Te aku Raka teman kecil Abil yang dulu selalu tante suruh buat jagain Abil, tante ingat kan? Te maaf aku baru jenguk tante sekarang, aku baru kembali dari London, dan rasanya syok sekali melihat tante berubah seperti ini. Raka seperti orang yang gagal menjaga putri tante.Sekarang Abil sangat berubah te. Ia tidak mengenali dunia sosial. Dia tumbuh menjadi wanita cantik yang kemarin Raka tidak mengenali kalau Raka tidak tanya ke temannya,...” ingin melanjutkan ucapan, tiba-tiba Abil udah siap untuk berangkat. “Yuk”.

Di dalam mobil mereka seperti pohon dan daun, bersama namun saling diam. Hanya terdengar semilir angin dari kaca mobil sampai akhirnya Abil memutuskan untuk memulai pembicaraan. “Mau ke mana sih?”

“Beli ketoprak Bang Ujan”.

Bang Ujan?

“Nih udah sampai, turun yuk Bil”.

Mereka berdua turun menuju ketoprak Bang Ujan yang dimaksud tadi. “Bang dua ya” ucap Raka memesan. Kini keduanya duduk menunggu pesanan. Sambil menunggu, Raka memulai obrolan.

“Bil”.

“Hmmm”.

“Ingat aku?”

Mendengar Raka berkata seperti itu, ia semakin kebingungan. Siapa dia? Apa maksudnya bicara begini?Padahal kan kita baru saling kenal. Bahkan, aku pun tidak tahu namanya. Ada apa ini Tuhan?

“Ada-ada aja kita kan baru kenal” ujar Abil mencairkan suasana.

“Bil aku Raka”.

“Oh jadi kamu Raka yang tanya nama aku ke Tiara”.

“Bil aku Raka, teman kecilmu”.

“Jangan bercanda deh, kita kan baru kenal” ucapnya sambil nyengir.

“Bil kita dulu sering ke sini waktu SD kelas 5”.

Perlahan, Abil mengingat segalanya. “Raka? Kamu?”

“Aku Raka Bil”.

Tanpa Abil sangka masa lalu yang sangat ia rindukan kini kembali. Tepat dihadapannya. Bodonya, Abil selama ini bersikap acuh tak acuh. Air matanya jatuh. Abil tak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata. Ia sangat merindukan Raka, teman kecilnya. Sosok yang paling mengerti gimana pun situasi Abil. Sosok yang selalu menemani Abil kemanapun ia pergi. Sosok yang paling mengalah dan tidak ingin ia sedih.

Abil memeluk Raka, seakan-akan tidak percaya dengan semua ini. Raka pun membalas pelukan Abil. “Raka.. maafkan aku yang asing untuk mengenalimu, maaf”.

“Tidak apa-apa, yang penting kamu ingat”.

“Kamu kemana aja?”

“Aku melanjutkan pendidikan di London, ikut ayahku karena dines disana, aku merindukanmu Bil”.

“Dan aku melebihi ucapanmu ka”.

Kini mereka seperti bulan dan bintang yang merindukan sang malam. Mereka yang lama berpisah kini saling melepas rindu. Jangan bertanya, bagaimana bahagianya mereka.

“Bil aku sedih melihat keadaan keluargamu”.

“Hancur seperti yang kamu lihat”.

“Kamu yang sabar ya bil rencana Tuhan lebih indah”.

“Aku percaya itu”.

“Udah yuk dimakan”.

Mereka berdua mengulang masa-masa beberapa tahun yang lalu dimana sering makan ketoprak disana, Abil sangat bahagia begitupun juga dengan Raka. Masalalu yang paling berhaga dalam hidupnya, kini kembali. Walaupun tidak mengembalikan keutuhan keluarganya, yang penting Abil sudah tidak sendiri menghadapi ini.

Share
SMA Muhammadiyah 9 Surabaya merupakan Sekolah berbasis The Islamic Entrepreneur School dengan Semboyan MUSE (mandiri unggul sukses entrepreneur)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel