> -->

Detektif Cilik Penggemar Presiden: Sebuah Cerpen Karya Anak SMA Muhammadiyah 9 Surabaya

Detektif Cilik Penggemar Presiden: Sebuah Cerpen Karya Anak SMA Muhammadiyah 9 Surabaya
Konten [Tampil]

Judul Cerpen: Detektif Kecil Penggemar Presiden, oleh Sinta Ferdiana kelas XI MIPA SMA MUSE
DETEKTIF CILIK PENGGEMAR PRESIDEN

“Bu, Bonar berangkat dulu ya”.

“Iya hati-hati Nyong”.

‘Nyong’ adalah panggilan untuk anak laki-laki di Manokwari, Papua. Seperti biasa, pagi-pagi sekali Bonar bocah kecil berusia 10 tahun selalu bersemangat pergi ke sekolah. Menurutnya, menuntut ilmu itu penting. Ia berusaha mengejar cita-cita yang mungkin menurut kalian sama sekali tidak masuk akal, yakni menjadi seorang detektif. 

Di sana, tidak seperti keadaan di kota. Sunyi, sepi, teknologi pun kurang berkembang. Namun, hal ini tidak mematahkan semangat generasi muda di Manokwari. Justru, dengan berbagai kekurangan, mereka semakin menunjukkan bahwa mereka tidak kalah dengan generasi lainnya, mereka yakin mereka mampu. Mereka percaya, keterbatasan tidak menjadi alasan.

Bonar berjalan kaki kurang lebih 1 km dari rumahnya. Tak usah kaget, memang sangat jauh. Tapi, Bonar melakukan ini bersama-sama dengan keempat temannya Asep, Bani, Dodi, dan Seno. Bila diperibahasakan ‘Berat sama dipikul ringan sama dijinjing’ ya semua menjadi terlihat ringan bila dikerjakan bersama-sama.

“Kalian tadi sudah sarapan?” tanya Seno kepada teman-temannya ditengah perjalanan. “Sudah dooonggg” sahut keempatnya dengan kompak. Semilir angin pagi yang bergoyang pada langit-langit perdesaan dikombinasi dengan suara kemricik air di sungai dan kicau burung bernyanyi menunjukkan tentramnya suasana di perdesaan.

Pelajaran dimulai. Keadaan sekolah di sana sangat berbeda 360 derajat dengan keadaan sekolah di kota-kota besar. Lantainya masih berasal dari tanah, papan tulisnya masih menggunakan papan kapur, proses belajar mengajar menggunakan alas tikar yang tempat duduknya pun lesehan. Namun, semangat cinta tanah air mereka menunjukkan mereka bangga dengan segala fasilitas yang ada di kota tercinta, Manokwari.

Saat tiba di kelas, Bonar dan teman-temannya kaget akan foto Presiden Jokowi dan wakilnya M. Jusuf Kalla yang dipajang didepan kelas. Mereka tampak senang, karena seumur hidup tak pernah ada foto presiden di kelas mereka, bahkan di sekolah mereka. Mereka berharap tidak hanya fotonya, semoga presiden Jokowi dan wakilnya bisa bertamu mereka di sekolahnya.

“Wow ini sangat keren bu” ucap Bonar kepada ibu gurunya.

“Ya, kemarin kepala sekolah kita dari Jakarta, beliau membeli itu untuk dipajang di sekolah kita. Agar kalian semakin semangat dalam proses belajar mengajar” ujar ibu guru sambil tersenyum.

Kegiatan belajar mengajar berlangsung. Mereka memperhatikan guru dengan baik. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kelas mereka. Tok tok tok.

“Ya masuk” ibu guru mempersilahkan orang itu, orang itu masuk.

“Permisi bu, saya guru baru yang diamanahi kepala sekolah untuk menjadi guru bahasa inggris di sekolah ini, maka saya mohon izin untuk perkenalan” ucap laki-laki bertubuh tinggi, memakai kemeja abu-abu dan berdasi biru tua yang katanya guru baru bahasa inggris tersebut.

“Oh iya, kalau begitu silakan pak” balas ibu guru dengan senyuman.

“Perkenalkan nama saya Herry Kurniawan, kalian bisa memanggil pak Herry. Saya berasal dari Jakarta, saya di sini diamanahi untuk menjadi guru bahasa inggris yang akan mengajar kalian”.

“Iya pak” jawab siswa di kelas itu dengan kompak. Para siswa terlihat bahagia sekali mendapat guru baru. Terlihat dari wajah seri mereka.

Kriiinnnggg...

Suara bel pertanda pulang berbunyi. Bonar dan keempat kawannya bergegas keluar kelas untuk membicarakan rencana main bola untuk nanti sore.

“Nanti sore jadi main?” ujar Dodi mengawali pembicaraan dihadapan keempat temannya. “

“Ayolah lama kita tak main” sahut Seno.

“Kumpul di rumah beta jam 4 sore kawan” ajak Bonar.

“Baiklah” sahut mereka semua kompak. Lalu, mereka pulang menuju rumah masing-masing.

Matahari akan ditelan bumi. Senja akan tiba. Sore ini, sesuai janji dengan teman-temannya, Bonar menunggu mereka dirumah untuk bermain bola.

“Nar” Dodi datang.

“Mana kawan-kawan?” tanya si Bonar.

“Ada itu dibelakang”.

“Ayolah berangkat kita” sorak kedua teman Bonar, Asep dan Bani”.

“Seno mana kah?” tanya Bonar.

Asep dan Bani kebingungan, mereka baru sadar jika Seno tidak mengikuti arah mereka. “Tadi ia di belakang kami nar” sahut Asep. “Betul itu” kata Bani.

“Terus bagaimana lah ini?” tanya Dodi.

“Kita cari sama-sama”.

“Baiklah, yuk”.

“Seno... seno.. kau ke mana lah”.

“Seno kau bersembunyi dimana?”

“Apa kau pulang?” mereka bersahut-sahutan mencari Seno disetiap ujung desa. Namun, tidak sepatahpun terdengar suara Seno. Langit menjelang malam, adzan Maghrib pun telah berbunyi.

“Bagaimana kalau kita mencari ke rumahnya?” saran Bani.

“Boleh, tapi sholat Maghrib dulu, lalu kita ke rumahnya”.

Mereka mencari Masjid terdekat. Mereka berharap, setelah sholat nanti mereka dipermudah untuk menemukan Seno. Mereka tidak tahu lagi apabila Seno tidak ditemukan. Semoga ini tidak terjadi.

---

“Sekarang kita cari ke rumah Seno”.

Sampai di rumah Seno, seperti yang mereka lihat, Seno belum pulang ke rumah. Ayah dan ibunya mengatakan bahwa ia belum pulang sejak pamit ingin bermain dengan teman-teman tadi. Kini, semua kebingungan. Memikirkan, mengapa bisa terjadi seperti ini. Hal yang sangat tidak biasa. Akhirnya, Bonar memutuskan untuk mencari Seno esok hari dengan teman-temannya, dan memberi jaminan kepada kedua orang tua Seno bahwa Seno akan pulang, ia akan kembali.

“Sudah mak. Esok akan kucari Seno dengan teman-teman. Jangan khawatir, Seno anak pemberani mak” ucap Bonar menenangkan suasana.

“Sekarang kau semua balik saja ke rumah, besok kita cari lagi” ucap Asep memandu teman-temannya”.

Tak terpikir. Tak biasanya salah satu mereka ada yang hilang. Biasanya, semua terlihat baik-baik saja. Namun kali ini? Sangat mencurigakan.

Keesokan paginya, seperti biasa Bonar pamit kepada ibunya dan berangkat sekolah berjalan kaki dengan keempat temannya. Namun, kini hanya dengan ketiga temannya. Karena Seno yang belum ditemukan. Bagi mereka, seperti ada yang kurang.

Saat di dalam kelas.

“Hari ini kita belajar bahasa inggris bukan?” tanya salah satu siswa lainnya.

“Wah berarti kita akan belajar dengan pak Herry, horeee” sahut Bani bersemangat.

Namun, saat itu pak Herry tidak masuk karena sakit. Berhubung mereka berempat memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi karena menerapkan sila kedua dalam pancasila yang berbunyi kemanusiaan yang adil dan beradab maka mereka memutuskan untuk menjenguk pak Herry dan lanjut untuk mencari Seno saat pulang sekolah nanti.

“Kita jenguk lah guru kita sepulang sekolah” ajak Dodi.

“Ayo” sahut mereka bertiga serentak.

Akhirnya, mereka berempat menghampiri rumah pak Herry. Rumahnya tidak jauh dari perkampungan mereka. Jadi, mereka tidak perlu khawatir ataupun takut kejauhan. 

“Fyuh. Eh lihat tuh, itu bukannya sandal si Seno?” tanya Bani penasaran.

“Wah betul, Seno di sana?” tanya Bonar membalikkan pertanyaan.

“Perlu kita selidiki!!!” ajak Bani”

Mereka serentak mengiyakan perkataan Bani. Mereka mengintip dari jendela rumah pak Herry. Sungguh ini tidak diduga, mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa pak Herry, guru baru yang katanya pindahan dari Jakarta itu telah menculik Seno teman mereka. Tidak sengaja, mereka dengar bahwa pak Herry akan membawa Seno ke Jakarta untuk dijadikan pengemis pada umumnya. Ngeri bukan?

“Kita harus lapor kepada pak RT sekarang juga!!!’ ajak Dodi memandu kawan-kawannya. Mereka berlari menuju rumah pak RT dan secepatnya memberitahukan apa yang sedang terjadi. Karena mereka ingin temannya terselamatkan.

Sampai di rumah pak RT mereka bersahutan berteriak memanggil pak RT, agar beliau segera tahu masalah ini.

“Pak RT, Assalamualaikum” teriak mereka dengan kompak.

Pak RT pun keluar dari rumahnya. “Waalaikumsalam, ada apa?” tanyanya.

“Ini pak, ada kasus penculikan di kampung ini, yang jadi korban teman kami sendiri, Seno namanya” jelas Bonar mewakili teman-temannya.

“Seno putra dari pak Bori itu?”

“Ya pak, betul sekali”.

“Siapa penculiknya”.

“Guru baru kami, beliau pindahan dari Jakarta. Dan setelah kami berlima mendatangi rumahnya dan mendengar semua rencana jahatnya, ternyata teman kami akan dibawa ke Jakarta untuk dijadikan pengemis”.

“Wah ini tidak bisa dibiarkan” tegas pak RT.

“Mari pak ikut kami”.

“Sebentar, kita pergoki saja bersama-sama. Biar saya telepon pihak kepolisian dan menghubungi keluarga Seno. Kalian tunggu ya”.

“Baik pak”.

Ayah ibu Seno, pak RT, pak polisi, bahkan ibu guru dan kepala sekolah bersama keempat anak-anak itu bergegas menuju rumah pak Herry. Di sana mereka langsung memastikan kebenaran yang dibilang keempat anak tadi. Ternyata benar, Seno ada didalam. Ia diikat dan dibungkam oleh pak Herry dan anak buahnya. 

Pak polisi tidak tinggal diam. Langsung didobrak rumah itu dan ditahan para pelakunya. Dodi, Bonar, Bani, dan Asep membebaskan Seno yang terikat. Kini penculik itu sudah ditangkap polisi, dan kampung tersebut mewaspadai lagi terkait penculikan kali ini. Mereka tidak ingin hal tersebut terjadi kembali mengganggu ketentraman kampungnya.

Keesokan harinya rumah itu diberi garis polisi. Bonar mewakili teman-temannya menjadi narasumber akan konflik ini. Banyak reporter yang datang dari Jakarta untuk mewawancarainya. Kini, Bonar dan teman-temannya dijuluki ‘Detektif Cilik’ karena kecerdikannya yang berhasil mengungkap masalah ini. 

Kemudian berita ini menyebar di mana-mana dan membawa efek positif bagi generasi muda di Indonesia. Lalu, Bonar dan teman-temannya diundang presiden Jokowi untuk ke Jakarta dan mendapat penghargaan sebagai ‘Detektif Cilik’. Bonar sangat bahagia, karena mimpinya untuk bertemu presiden Jokowi kini tewujud.
Share
SMA Muhammadiyah 9 Surabaya merupakan Sekolah berbasis The Islamic Entrepreneur School dengan Semboyan MUSE (mandiri unggul sukses entrepreneur)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel